Showing posts with label i'm a dreamer. Show all posts
Showing posts with label i'm a dreamer. Show all posts

situ...

biola itu terputus talinya
bila mahu tukar talinya?

gersek-gersek melodi menusuk-nusuk gegendang telinga
menggerak-gerak jiwa,
merentap-rentap gabungan rahsia,
antara manusia dengan manusia

biar dia lewati perhentian ini,
masa terbeku boleh-kah dipecah?
jalan-jalan berselsisih tapi masih jalan mati.

takut-lah...
hati-hati jangan sampai mati

ianya tetap tertanam, terpacak, terkedalam

tak jauh tapi masih tetap ada

mungkin patah,
ada-ada saja cerita yang diwarnakan hitam
bagi menolak puteh-puteh itu

jalan
jalan
jalan
jalan

tapi jangan terlupa sesuatu yang mungkin dilupa

jangan
jangan
jangan
jangan

rusak


by: i'm a dreamer
kelmarin kau ludah babi itu

ptuih!

kenapa hari ini kau ingin benar menjadi babi?
yang diludah bukan dari kau?

---

manusia akan sentiasa berakhir disuatu tempat yang pernah mereka seranah suatu masa dulu dengan alasan seorang manusia "biasa-lah...aku manusia"


by: i'm a dreamer(juga seorang manusia)

bunyi kipas itu...

bunyi kipas berbunyi laju...
sangat laju..

tapi tidak terasa anginnya.

by: i'm a dreamer

kalaulah si adam dan hawa...

Kalau lah adam dan hawa tidak memakan buah larangan itu,
Sudah tentu aku, kau dan mereka tidak perlu menempuhi dunia yang tunggang langgang ini

Orang acapkali menyua ayat,
”setiap yang berlaku pasti bersebab”
perlukah sebab-sebab didahului keperitan?
Mampukah sebab-sebab itu menutup lubang-lubang kepahitan jahanam?

Untuk mampu berjalan, manusia perlu menjalani jatuh-jatuh merangkak
Untuk mendongak, manusia perlu belajar untuk membawahkan kepala
Untuk menghilangkan airmata, manusia perlu belajar mencucinya

hingar bingar tak selalunya diiringi gelak ketawa
kadang-kadang tersangkut hilang entah kemana
bersembunyi mungkin
bukan hilang hilang, cuma menyorok tak mahu keluar atau mungkin bisa saja gegar kebisingan itu

cuba kau bergabung keramaian itu,
kalau-kalau kau mampu curi sedikit keriuhan
lalu kau simpan erat diruang kesunyian,
gantung ia ditempat yang sukar dicapai
ikat ia kemas agar tidak jatuh berderai
biar kebisingan terus tetap menghuni ruang-ruang pendusta

kau bukan berdusta
kau bukan mendustai kehidupan
cuma kadang-kadang pendustaan itu sebagai ritual pembebas keperitan
tapi bukankah keperitaan adalah sebuah permulaan kegembiraan?

Pergi jahanam!!!
Pukimak! Anak haram!!

Maaf...

Kemanisan tidak perlu bermula dengan kepahitan
Titik-titik itu boleh saja bercantum tanpa perlu garis-garis sial menolak
Coret-coret bisa saja digabung menjadi hasil seni agung

Lambung lambung
Campak campak
Carit carit
Rodok rodok
Bungkam bungkam

Tapi tetap saja namanya kehidupan

Telanjangkan definisinya
Ternampakkah kemaluan dicelah-celah itu?
Wujudkah?
Sempatkah ludah-ludah itu kering sebelum siang?
Dikala malamnya dihujani hijaunya kahak pekat

Menari lagi lagu-lagu kecewa
Kekiri kekanan tanpa kaki tanpa lengan
Tapi tetap saja ikut melagu, lagu lagu keperitan

Alangkah indahnya kalau-kalau adam dan hawa tidak makan buah larangan itu
Lalu membuatkan pancaindera bisu memberitahu mereka bahwa ketelanjangan itu suatu kemaluan

Dan aku, kau dan mereka tetap saja disyurga
Meninggalkan kemungkinan hidup didunia yang seringkalinya
”setiap yang berlaku pasti bersebab”

tapi sampai bila?

by: i'm a dreamer

sunyi.. itu lolongan!!!

Menjerit tak terkeluar bunyi
Kesunyian itu bukan sunyi yang biasa
Membawa segala pekik lolong laungan batin
Emosi berguling-guling meronta minta dirungkai

Apa lagi yang tidak kena?
Putuskan jalur-jalur yang berselirat itu
Rangkum ia menjadi satu garisan lurus tak tercapai akal
Kerja ini tak mampu dia lakukan berseorang
Bukankah lohong-lohong itu kau yang huni?

Apa perlunya disumbat kebuntuan dengan persoalan?
Apa mungkin ianya suatu tirai fantamorgana bagi melepas diri?
Biar selepas ini kebusukan bisa dialihkan menjadi moral-moral paling kental
Lalu senang kau unjurkan jari telunjuk itu menghala ketubuhnya?

Hari ini segalanya suci
Hari ini segala hitam tampak puteh
Esok-esok bagaimana?
Terjumpa pelangi malahan satu warna menjadi tiada warna
Namanya manusia tidak akan pernah puas!

Cuba cari refleksi diri
Takkan perlu aku heret kau menghadap cermin membelai wajah?

by: i'm a dreamer

terpenuhi..diisi..hilang

Ruang-ruang itu seperti selalu
Berhabuk, berdebu, berlumut

Kau rindukan dekorasi ruang itu
Teragak-agak kau lantas mengikis lumut-lumut itu
“aku mahu huni ruang itu sekali lagi” monolog kau
”aku mahu disitu membuang rindu mengait indah” kata kau kepada kau

tapi tangan kau terikat dibelakang, kaki kau digari perlu melompat
kenapa perlu harungi sesuatu yang tidak pasti?

Esok memang suatu yang tidak pasti
Tapi roh kurang bersedia kenapa perlu paksa?

Ruang itu kini kotor
Kotor dengan ketidaksediaan diri sendiri
Malah menghentam yang lain
Tangan terikut penuh dengan kebodohan
Tangan terikut penuh dengan kekotoran

Hari semalam memaksa kau berubah bentuk menjadi hari ini
Liku-likunya perlu kau susur
Manusia itu bukan malaikat dari langit
Cuma manusia harus jadi malaikat walau tak mampu

Tak perlu pandang gelap dibelakang
Walau panjang mana hari malam, kelak akan datang siang menghuni

by: i'm a dreamer

gigil-gigil subuh, takut-takut salji didapan

Tersangkut diantara dua dimensi yang tak akan mungkin terbebas
Ke kiri ke kanan tetap saja ke tengah
Bersatu dalam jiwa-jiwa melarat
Antara mahu dan tidak mahu
Terhumban antara indah-indah dan perit-perit

Lorong itu bukan siapa-siapa yang mengheret
Bukankah aku pernah saja menghirup udara-udara disana
Dan lantas saja aku gambarkan kejijikan suasananya?
Menyelak-nyelak halaman demi halaman pada buku-buku peradaban kehidupan
Menyua cetakan-cetakan pengalaman dari liku-liku kesialan

Berusaha mengelak seliratnya akar-akar yang sebesar pemeluk itu
Kadangnya terjatuh namun bisa bangkit menongkat kudrat
Tapi bukan selalunya daya mengatasi keinginan
Terjatuh lalu berselingkuh antara jalur-jalur kayu itu
Lalu mengikat diri jarang-jarang tidak terbelit

Ada pisau didepan buat memotong
Tapi gagal dicapai atau terlepas pandang?
Atau mungkin saja buat-buat tak nampak
Agar badan terbiasa sakit
Lebih indah mengecap manis selepas tekak pahit merasa madu bercampur cuka

Bukan sekali kepala diteleng menoleh kebelakang
Apa disitu?
Tetap saja disitu
Ditinggal memang tidak mungkin sama yang dihadapan
Detik lalu menggigil kesejukan subuh
Risau-risau detik mendatang beku dilanggar salji
Melutut berdoa matahari menjengah membawa panas-panas bumi
Sambil mencairkan kesejukan menggigit walau apa nombornya suhu
Harap-harap..

Ribut datanglah mendobrak segalanya
menginaplah sunyi sepi selepas musnahnya kegagalan ఇటు

by: i'm a dreamer

ini kali pertama aku menyentuh roh

Aku meraba-raba
Tercari sesuatu yang aku sendiri tak pasti

Aku ingin menyanyi melagukan lirik-lirik tanpa sepi
Aku ingin menari menarikan melodi-melodi emosi
Seperti liuk-liuk lalang ditampar angin
Seperti batu-batu karang di laut yang paling dalam

Aku ingin seperti hijaunya daun, luasnya bumi
Terbentang memuntahkan segala isi

Ribut itu aku rindu
Amukan itu aku mahu
Bilakah ianya datang membawa bising?
Kejut aku kalau-kalau ia datang
Harap membawa hirup-pikuk tapi jangan terlalu bising
Takut-takut tak mampu telinga menangkap
Risau-risau habis bising, sunyi menghuni
Tetap saja aku sendiri

Terjinjit aku cuba mencapai tapi tak dapat
Bukan tinggi cuma tak pasti
Ada orang teriak,
Cukup untuk mendengar tapi tak cukup untuk difaham
Ahh.. jangan-jangan ianya hantu?
Membawa-bawa berita-berita takut
Terbawa-bawa takut-takut?

Kenapa langit sukar di sentuh?
Mengapa rumput selalu dapat dienjak?
Bukankah keduanya tetap saja dibumi?
Bukankah keduanya selalu ditangkap mata?
Mungkin juga bohong-bohong membuat cerita tentang keduanya
Tak perlu bertanya pada si bisu tentang itu
Tak perlu menyapa si pekak tentang keduanya
Jawapannya tetap saja sama
Bahwa keduanya tetap saja disitu
Bezanya beranikah?

Soal-menyoal itu selalu
Terkadang jumpa selalu hilang
Dan selalu juga disumbat soal
Ke utara ke selatan apa yang kau dapat?
Soal dijawab soal, kemudian dimana jawapan?

Jinjing dibahu badan tak mampu
Campak jauh ia tak mahu
Habis bagaimana?
Mahu bakar tak terbakar,
Koyak ia tercantum semula
Cuma cantum nampak bekasnya

Tangan-tangan kudung itu habis dimakan anjing
Kalau sudah tiada tangan, bagaimana aku mahu menggenggam?

Kata-kata tercakap tanpa bunyi
Sebagai pendosa tak layak mengungkap pahala
Walau dalamnya dikais
Hanyir itu saja yang terjumpa
Seluas mana dicari
Parut-parut bersilang ternampak

Pagi itu tidak seperti pagi
Senja itu tidak seperti senja

Daya itu terikat utuh
Hancurkan ia, bukan aku
Kerna ini kali pertama aku menyentuh roh
Ini kali pertama aku menyentuh roh

by: i'm a dreamer

sunyi lalu ketawa

cuba kau mendongak,
wujudkah di pemandanganmu suatu rahsia?
rahsia tanpa nama, tanpa makna..
yang menyorok di celah-celah seliratan itu?

asap-asap itu memimpin tanganku pergi,
tangga-tangga itu bersedia menunjuk jalan padaku
hijau-hijau itu mendukungku menari
menari tarian-tarian indah bersama sayap-sayap

daerah ini jarang kau jejaki,
daerah yang tanpa apa-apa,
tapi ada ada dan tak perlu kau cari,
ia datang membawa manisan-manisan indah yang tak pernah mungkin tercetak di daya angan-angan kau

bakar ia biar menyala
pusing ia agar berasap-asap
sumbat ia kedalam penghujung anatomi
lambung ia kebawah keatas dan ketepi

sunyi....

tanpa bunyi, tanpa kata..

ketawa itu pengubat duka,
maka ketawalah! KETAWALAH!!

HAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAAH hah!

tunduk pada satu penjuru yang entah mana-mana,
terkadang kabur, selalunya kabur

kata-kata terpusing sebagai suatu bulatan yang akhirnya bertemu titik asal

jangan kau kata itu takdir,
ianya bukan takdir!
ianya ciptaan tuhan.
eksplorasi manusia
eksperimentasi bangsa manusia

kedamaian manusia..


sunyi.....

by: i'm a dreamer

kesialan masa yang mungkin, atau tiada kemungkinan?

telah aku lukis
garis-garis dimana perlu kau sentuhi
warna-warna bakal kau contengi
belantara mana kau harus harungi

biar saket
sememangnya tanpa kesaketan, hidup bukan lagi kehidupan

kau mengerang,
aku?
aku tetap saja lemas dalam darah-darah aku sendiri

ahh.. mudah saja..
rentap semuanya biar lari dari jahanam ini
dari kepedulian yang tak pernah mungkin aku peduli
atau aku sendiri menyendiri takut menikus?

masa itu kecundang
masa itu pecundang
tapi masa itu juga menghentam

menghentam dari segenap sisi,
kiri, kanan atas dan bawah..

bukan aku tak menepis mengelak,
cuma aku relakan ia menembus rohku
seperti gugusan bintang menerobos bumi yang membentuk lohong-lohong besar sebesar bumi itu sendiri

akhirnya aku sekali lagi membiar masa mencetak kemungkinan
kemungkinan yang hanya mengundang masa?
atau sekali lagi masa itu suatu kesialan?


by: i'm a dreamer

hancuri kiamat itu

putarkan waktu kehadapan
pecahkan detik-detik yang menghuni suatu ketetapan yang tidak mampu diubah
Bolehkah aku berlari sambil membutakan mata?

zat-zat itu,roh-roh itu tetap saja disitu
tapi jisimnya hilang dibawa angin

wahai tuhan, tolonglah hancuri hari kiamat
dan jelmakan hari-hari pembalasan
dimana aku berada disyurga memadu bidadari-bidadari indah
sambil meminum susu-susu dari sungai-sungai menjalar

kerna aku kini dineraka
terbakar, api menjilat ke tulang yang paling dalam
sambil melihat kau disyurga
mengepalai nikmat-nikmat indah

dalam kegembiraan yang dilukis..

benarkah?

by: i'm the dreamer

terkutuk

pengharapan adalah seperti..
berlari-lari mengejar syurga,
mengelak-ngelak panasnya neraka

si kecil berharap esok lusa disusukan,
pelacur jalanan membiar agar esok lusa dapat diperpanjang,

tenang..
mungkin juga ia menipu tanda setuju,
atau mungkin ia seperti malaikat yang menipu?

Telahan dangkal orang panggil,
aku baru saja bersua pengharapan
dan apa yang diludahkan tepat ke muka ku?

pengharapan adalah suatu pembohongan!

makin tinggi kepala mendongak harapan,
makin dalam jatuh ke lembah pembohongan.

pengharapan terkutuk!

bukan menghidupi kehidupan malah memusnah

by: i'm a dreamer

kematian yang dipaksa

muntah segala isi,
kenapa perlu kau sumbat sedangkan aku menolak ia keluar?

kematian suatu yang pasti,
namun tidak perlu kau jolok ia tepat ke rohani nipisku,
mahu tidak mahu aku teruskan hadapi,
jika tidak hari ini, mungkin hari selepas hari ini

terbusuk!
mampukah bersembunyi dan terlepas-lari dari kebusukan?
atau perlu wangi aku curi?

aku mati dalam kematian yang dipaksakan

by: i'm a dreamer

bacok ia jadi mati

kenapa perlu ilusi saja yang mengisi mimpi?
sedangkan ada-ada saja tahi-tahi dilontar,
tak kena, mengelak aku..

tidak hari ini, mungkin esok lusa?

siapa dia yang kau kencing semalam?
siapa dia yang kau ludah semalam?

ahh...
aku lakukan atas perikemanusiaan..
bukan bangkai yang aku tarik-tarik, lalu mudah saja aku humban ketepi.

berlari ketepi, aku kesana tanpa mampu ku ingat..
bukan lupa malahan melupa..

tapi ia tidak akan lupa..
matahari tetap saja bersinar waktu pagi, malam tetap juga diterangi bulan.

bukan aku! bukan aku yang pijak namun keadaan..
hidup sentiasa mencetak sejarah,
adakah aku jua seperti hidup? mencetak sejarah atau mewarnainya hitam?

gantung ia agar mati,
agar menghantui tidak pernah mengekori tapak-tapak dihadapan,
serak pasir agar hilang jejak,
aku takut namun terpaksa

by: i'm a dreamer

sisa-sisa terkutuk

di atas robohan kota taj mahal,
dicelah-celah bucu kaca-kaca yang terderai,
diantara sisi-sisi mimpi dan realiti..

aku binakan kekuatan yang tak masuk akal..

percayalah..
wujudlah..

hadapilah

by: i'm a dreamer

shuhhhh aku berpuisi

Selalunya logika menemui titik absurditi

kadang-kadang logika itu sendiri suatu yang tak pernah masuk akal, mengarut!

sperti babi-babi menari meminta-minta disumbatkan arak yang tidak mungkin pernah wujud dimuka bumi ini

campak aku kesitu, biar hilang yang disini

tapi bagaimana yang disana?

ruang ini belum sempat aku nikmati, sumpah!

Warnakan tulangku biru,

butakan pemandanganku warna warni

Tolonglah aku merayu,

binakan semula apa yang musnah

hidupinya atas tapak kematian yang merusak

aku perlukan keperluan

by: i'm a dreamer

Dunia lagi satu

Ingin aku,
Menjelajah hutan yang entah mana-mana,
Seringkali tersekat pada akar-akar kayu menjalar.

Saket,Luka,Perit,

Mengoyak-ngoyat isi kulit,
Mendobrak kuatnya semangat,
Terkoyak, tercarit,
Memaki aku dalam diam.
Seranah paling jijik kulontar tanda amarah!
Bangun lalu meludah penuh dendam.

Lalu menyanyi,
Berlagu aku tanpa lirik,
Seringkali tanpa jiwa,
Seringkali tanpa nyawa.

Bebaskan aku!
Dari tempat yang tak pernah mungkin terbebas!

Lepaskan aku!
Dari tawanan yang tak pernah mungkin terlepas!

Bunuh aku!
Dari hidup yang tak pernah mungkin terbunuh!

Ludahi jiwaku,
Rungkai seliratnya mindaku,
Agar terus terusan sesat didunia lagi satu.

by: i'm a dreamer

Bulan

Malam itu,
Kulihat bulan bergantungan di awan,
Terpancar cahaya menyelimuti susuk tubuh,
Susuk yang lemah gemalai,
Saat kau campak separuh cinta,
Saat kewarasanmu terpisah dari rasional,
Saat air jernih mataku menyelusuri pipi.

Bulan,
Tetaplah kau menerangi malam,
Chenta,
Tetaplah kau mengisi realiti.

Sedarlah,
Sesungguhnya kau dan aku,
Menyentuh bulan yang sama.

by: i'm a dreamer

Bintang

Kulihat bintang,
Menembusi unggulnya pancaindera..

Kugapai bintang,
merentasi logikal minda..

Kurentap bimbang,
Kau menjauh..

Kupaut,
Berpeluk susuk..

Kuresah kau menghilang,
Sepi..

by: i'm a dreamer

emansipasi jiwa karat

perlahan...
merangkak-rangkak aku,
untuk melepasi garisan,
untuk mencari jalan keluar,
yang sengaja dikabur gelap kelam,
agar aku terus berada dilingkaran,
bulatan yang dicanang berwarna warni,
namun sebenarnya hitam pekat menyekat,
sesak dengan bau-bau mual meloyakan,
dipaksa menjilat segala muntahan jijik si celaka,
mencuci kencing-kencing sial dari kemaluan-kemaluan bangsat,
menadah air-air mani hasil onani keparat!
jika untuk terus meneruskan keterlangsungan hidup,

belum...
aku belum ingin mati,
tapi tidak cukup berani untuk meniti,
dan akhirnya terikut tetapi tidak tersangkut,
bersama-sama menjadi,
air najis yang mengalir ke lubang tahi
yang paling jijik..

by: i'm a dreamer